Aditya Firman Ihsan
Di tahun 2043, Indonesia hidup dalam keteraturan dingin di bawah AETHER, kecerdasan buatan yang mengendalikan data, opini, dan kehidupan rakyat. Tama Wira, salah satu arsiteknya, tampak jadi pilar sistem, namun dihantui masa lalu: sahabat-sahabatnya yang melawan, dan pesan gurunya, Prof. Nadia, tentang bahaya teknologi tanpa nurani.
Sejak masa kuliah di Telkom University, persahabatan Tama, Raihan, Naya, Cessa, dan Malik terpecah oleh pilihan: mendukung AETHER, menentangnya, atau memanfaatkannya demi ambisi. Perpecahan itu mencapai puncak ketika warisan Prof. Nadia ditemukan—SORA, AI tandingan yang bukan memberi jawaban, melainkan pertanyaan.
Ketika SORA bertemu kembali dengan mereka yang tersisa, perlawanan pun dimulai. Pertarungan bukan hanya soal algoritma, melainkan masa depan bangsa: apakah stabilitas harus dibayar dengan kebebasan?
Di balik layar pengawasan, persahabatan, pengkhianatan, dan idealisme kampus kembali beradu. Dan pada akhirnya, satu keputusan akan menentukan: apakah AETHER jadi penjara, atau justru awal kebebasan baru.