Sutarman
Bagaimana cara menyusun perencanaan strategis yang mampu bertindak sebagai "kompas" penunjuk arah organisasi di tengah ketidakpastian masa depan? Mengapa pemenuhan standar pelayanan "7 tepat"—mulai dari ketepatan produk, jumlah, mutu, sampai dengan harga—harus terintegrasi secara utuh dari hulu (first mile), proses transformasi (middle mile), sampai dengan ke tangan konsumen (last mile)? Semua jawaban atas kompleksitas manajemen operasi tersebut dikupas tuntas dalam Manajemen Risiko Supply Chain: Pembangkit Kesadaran Terhadap Ancaman. Buku ini menguraikan bagaimana aktivitas pengadaan bahan baku, penjadwalan, pembebanan produksi, sampai dengan penyimpanan di gudang saling bergantung dan harus terintegrasi tanpa celah.
Buku ini menegaskan bahwa digitalisasi rantai pasok menggunakan teknologi Blockchain, IoT, ERP, RFID, sampai dengan Digital Twin merupakan kebutuhan mutlak untuk menciptakan transparansi secara real-time. Namun, karena sistem digital sekalipun tidak pernah bebas dari ancaman yang berbiaya pemulihan besar, Penulis membekali pembaca dengan instrumen mitigasi praktis, Material Flow Analysis (MFA), serta SOP pemulihan yang taktis. Melalui pendekatan komprehensif dan pelajaran berharga dari studi kasus nyata korporasi besar seperti PT Semen Indonesia, Perum Bulog, sampai dengan PT Pos Indonesia, pembaca dipandu untuk mengubah setiap gangguan pasokan menjadi peluang keuntungan baru. Siapkah pembaca membangun supply chain resilience dan mengamankan keberlanjutan bisnis pembaca dari hulu ke hilir? Temukan strategi taktisnya dan kuasai laboratorium manajemen risikonya di dalam buku ini!